Masjid Temu: Rumah Bersama dan Agen Perubahan
Ini bukan soal nama masjid. Tapi tentang bagaimana sebaiknya mengelola masjid di zaman yang terus berubah ini. Zaman ketika cara pandang aliran tak lagi menarik bagi generasi sekarang.
Saya kepikiran itu ketika menghadiri pengkuhan Pengurus Cabang DMI (Dewan Masjid Indonesia) Gayungan, Surabaya. Di Masjid Al Badar. Masjid milik Muhammadiyah. Lokasinya di depan kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur.
Masjidnya baru. Bagus sekali. Dulu saya pernah ke sini. Ketika masih menjadi sesuatu di Pemkot Surabaya. Seingat saya, dulu catnya biru. Khas masjid milik persyarikatan yang didirikan KH Ahmad Dahlan ini. Kini tak ada lagi simbol itu.
Keesokan harinya, saya mengukuhkan Pengurus Cabang DMI Kecanatab Sukolilo. Kali ini tidak di masjid. Tapi di Hotel Gunawangsa, jalan MERR Surabaya. Mereka menggelar rapat kerja sebelum dikukuhkan. Bekerja dulu sebelum dilantik. Luar biasa.
Ini salah satu kecamatan basis NU di Surabaya. Masjidnya banyak yang memutar tarhim sebelum adzan shalat. Ini lantunan yang berisi puji-pujian dan doa untuk Nabi Muhammad SAW. Selalu diputar sebelum adzan. Terutama saat Subuh. Tanda jelang waktu shalat tiba.
Karena basis NU, maka acara pengukuhannya diawali dengan pembacaan shalawat Nabi. Setelah pembacaan ayat suci Alqurβan. Hadir juga pengurus cabang Muhammadiyah setempat. Di antara mereka juga ada yang dilantik menjadi pengurus PC DMI Sukolilo.
DMI Surabaya memang sedang rajin membentuk kepengurusan di tingkat kecamatan. Kini sudah disahkan 16 PC dari 31 kecamatan di Surabaya. Gerak cepat ini dipelopori Gus Miftah Jauhari. Yang bergabung dengan DMI Surabaya di tahun ini.
Dari dua pertemuan itu, saya makin yakin pentingnya masjid sebagai titik temu. Bukan hanya sebagai tempat ibadah. Tapi menjadi tempat bertemunya berbagai kelompok ummat Islam. Dari berbagai mazhab dan latar belakang organisasi kemasyarakatan.
Di Gayungan, saya bercerita tentang bagaimana relasi antar umat di zaman dulu. Generasi orang tua saya masih sangat sensitif. Ceramah para tokoh NU dan Muhammadiyah masih saling menyindir dan menyalahkan. Umumnya soal ubudiyah alias cara beribadah. Tentang qunut, ziarah kubur dan sebagainya.
Sampai-sampai, ketika saya hendak kuliah di Jogja paska lulus SMA, ibu saya sangat keberatan. Karena saya ngotot, beliau akhirnya merestuinya. Tapi, saat berangkat ke Jogja, ibu saya menitipkan surat untuk saudaranya yang jadi Ketua PWNU DIY saat itu.
βKamu tahu isi surat yang dikirim ibumu ke saya saat itu? Isinya meminta saya untuk menjaga kamu agar tidak menjadi Muhammadiyah,β katanya saat beliau melayat ibu saya yang wafat setelah 10 tahun saya kuliah di Jogja.
Kini, hal seperti itu sangat jarang terjadi. Apalagi untuk generasi Z sekarang. Mereka tak lagi mempersoalkan cara beragama. Karena itu, masjid pun perlu menjadi rumah bersama. Biarlah ada masjid Muhammadiyah, masjid NU, masjid LDII, dan masjid Al Irsyad. Tapi itu hanya sejarah kepemilikan dan pengelolaan.
Saatnya, masjid menjadi titik temu dari berbagai kelompok umat Islam. Titik temu untuk menebar manfaat dan maslahat. Masjid yang menyatukan antar kelompok masyarakat. Masjid yang menjadi tempat interaksi dari berbagai stratifikasi sosial.
Di dalam shaf shalat, semua sudah berdiri sejajar. Pengusaha, pegawai, tukang parkir dan mereka yang sedang mencari pekerjaan. Tak ada tempat khusus untuk orang kaya. Juga tak ada barisan tersendiri untuk orang miskin. Semuanya menghadap ke arah yang sama.
Persoalannya, apakah kesejajaran itu selesai setelah salam? Setelah sepatu dikenakan dan kendaraan dinyalakan? Atau bisa diteruskan menjadi kepedulian terhadap kehidupan sesama jamaah?
Saya membayangkan masjid yang tahu keadaan warga di sekitarnya. Siapa yang sedang sakit. Siapa yang anaknya terancam putus sekolah. Siapa yang kehilangan pekerjaan. Juga siapa yang punya kemampuan untuk membantu mereka. Lantas mempertemukan keduanya.
Bukankah ini juga pekerjaan memakmurkan masjid? Membuat orang merasa bahwa datang ke masjid berarti masuk ke lingkungan yang peduli. Tempat yang membuatnya merasa punya saudara. Apalagi ketika kehidupan di luar sana terasa makin berat.
Anak-anak muda juga membutuhkan tempat seperti itu. Mereka hidup dalam dunia yang ramai oleh percakapan digital. Tapi belum tentu punya teman untuk membicarakan persoalan hidupnya. Tentang pekerjaan, keluarga, atau kecemasan menghadapi masa depan.
Masjid bisa menyediakan ruangnya. Dengan pengurus yang mau mendengar. Dengan kegiatan yang memberi kesempatan mereka ikut bekerja. Mengelola informasi, membantu anak-anak belajar, atau mendampingi usaha kecil di sekitar masjid.
Tentu, ini membutuhkan cara mengelola yang berbeda. Takmir tak cukup hanya mengatur jadwal imam dan khatib. Atau memastikan listrik dibayar dan karpet dibersihkan. Semua itu tetap penting. Tapi ada kebutuhan jamaah yang juga perlu diurus.
Mulainya bisa sederhana. Mendata keadaan warga. Menyusun program sesuai kebutuhan. Mengajak orang yang punya kemampuan untuk terlibat. Lalu melaporkan penggunaan uang jamaah dengan terbuka. Agar kepercayaan tumbuh bersama manfaat yang dirasakan.
Jangan sampai uang terkumpul banyak, tapi pengurus tak tahu untuk apa digunakan selain membangun. Masjid terus dipercantik. Sementara ada tetangga yang kesulitan membeli makanan. Kemegahan bangunan seharusnya berjalan bersama kepedulian terhadap keadaan manusia di sekitarnya.
Di sini DMI bisa hadir. Mempertemukan pengalaman antar takmir. Membantu memperbaiki pengelolaan. Menghubungkan masjid dengan tenaga kesehatan, pendidik, pengusaha dan berbagai pihak yang bisa diajak bekerja. Agar setiap masjid tak harus memulai semuanya sendiri.
DMI juga perlu menjadi titik temu. Seperti yang saya lihat di Gayungan dan Sukolilo itu. Orang dari latar organisasi berbeda bisa duduk bersama. Membicarakan pekerjaan yang manfaatnya bisa dirasakan bersama.
Zaman berubah begitu cepat. Fungsi dan peran masjid pun perlu bergerak lebih luas. Dari tempat ibadah yang dulu beririsan kuat dengan paham aliran, menjadi ruang yang lebih cair. Menyentuh pendidikan, kesehatan, ekonomi, lingkungan dan persoalan kehidupan lainnya.
Akidah menjadi pijakannya. Akhlaq menjadi cara bekerjanya. Sedangkan kemanusiaan ditempatkan di atas segala kepentingan kelompok. Siapa pun yang membutuhkan pertolongan harus bisa merasakan kepeduliannya.
Masjid bisa menjadi agen perubahan. Dan itu menuntut tata kelola yang lebih baik dan maju dari sebelumnya. DMI dan takmir masjid punya pekerjaan bersama untuk mengawal pergeseran ini.
Kini sudah mulai banyak masjid yang meringankan beban jamaahnya. Misal, menyediakan makan siang dan malam. Juga masjid yang ramah musafir dan ramah kepada orang yang kurang beruntung. Bahkan termasuk kepada non muslim.
Rasanya, menjadikan masjid sebagai ruang bertemu sudah menjadi kebutuhan. Bukan hanya menjadi tempat beribadah. Tapi tempat manusia saling menguatkan dan bersama-sama memperbaiki kehidupan.
Advertisement